• trending
  • Press Tour 2026, UMRI Perkuat Sinergi Bersama Insan Media di Sumatera Barat
  • Selasa, 21 Juli 2026

Organisasi

KEMBALI >

PK IMM Djazman Alkindi FSI UMRI Gelar Diskusi Publik, Bahas Fenomena LGBT dari Perspektif Psikologi, Islam, dan Gerakan Mahasiswa

17 Jul 2026 · Publisher: Administrator 19 Dilihat
PK IMM Djazman Alkindi FSI UMRI Gelar Diskusi Publik, Bahas Fenomena LGBT dari Perspektif Psikologi, Islam, dan Gerakan Mahasiswa
PK Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Djazman Alkindi Fak. Studi Islam UMRI, gelar diskusi publik bertajuk "LGBT Dinormalisasi?", kegiatan yang menjadi ruang dialog akademik yang mengangkat fenomena LGBT melalui berbagai sudut pandang, diikuti seratusan kader IMM dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Pekanbaru (riauterbilang) – Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Djazman Alkindi Fakultas Studi Islam (FSI) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) menggelar diskusi publik bertajuk "LGBT Dinormalisasi?" pada Jumat (17/7/2026) di halaman Kampus Utama UMRI. Kegiatan ini menjadi ruang dialog akademik yang mengangkat fenomena LGBT melalui berbagai sudut pandang, yakni psikologi, keislaman, dan gerakan mahasiswa.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dekan Fakultas Studi Islam UMRI Dr. Santoso, S.S., M.Si., Wakil Dekan Fakultas Studi Islam UMRI Dr. Salman, S.Ud., M.Pd., serta Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Kota Pekanbaru Rahmatul Aufa, S.Pd. Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang terdiri atas kader PC IMM Pekanbaru, PK IMM se-Kota Pekanbaru, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Dr. Santoso menjelaskan bahwa fenomena LGBT perlu dikaji secara kritis melalui pendekatan ilmiah dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Menurutnya, perubahan cara pandang terhadap isu tersebut berkembang melalui proses panjang dalam ruang publik, termasuk pembahasan di lingkungan akademik dan politik.

"Gelombang penyimpangan ini awalnya diklaim sebagai penyakit di New York, kemudian menjadi pembahasan di parlemen dan kampus sehingga seiring waktu dianggap sebagai perilaku yang normal. Orientasi seksual hanya ada dua, sehingga munculnya orientasi lain menimbulkan ambiguitas orientasi seksual," ujarnya.

Sementara itu, Dr. Salman memaparkan pandangan Islam mengenai persoalan tersebut dengan mengacu pada dalil-dalil Al-Qur'an, hadis, serta fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia menjelaskan bahwa pembahasan mengenai perilaku menyimpang telah ada sejak masa lampau dan menjadi bagian dari kajian dalam khazanah keislaman.

Dari perspektif gerakan mahasiswa, Rahmatul Aufa menyampaikan bahwa fenomena LGBT juga perlu dipahami dari sisi sosial dan psikologis. Menurutnya, sebagian individu dapat mengalami persoalan relasi dan kenyamanan dalam kehidupan sosial sehingga memengaruhi perilakunya. Ia menegaskan bahwa IMM sebagai organisasi kader akan terus mengedepankan edukasi dan dakwah dalam menyikapi berbagai persoalan moral yang berkembang di tengah masyarakat.

Diskusi yang berlangsung secara interaktif tersebut diwarnai dengan sesi tanya jawab antara narasumber dan peserta. Berbagai pandangan disampaikan sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa dalam memahami isu-isu kontemporer melalui pendekatan akademik dan keagamaan.

Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi wadah penguatan literasi keislaman, pemikiran kritis, serta kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang. Melalui forum diskusi seperti ini, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan pandangan secara argumentatif, santun, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam serta semangat intelektual yang menjadi karakter gerakan IMM. (Muhansir)

+